Apa yang Anda fikirkan jika teringat Pilpres 2009? Anda merasa sudah salah pilih? Anda merasa telah ikut dalam sebuah perhelatan emosional demokrasi tanpa martabat? Money Poltics?  Pemerintahan baru berlangsung 1 tahun. Tetapi aroma politik menyongsong suksesi 2014 sudah mulai terasa. Sembari memperhatikan secara cermat fenomena yang pasti akan muncul ke depan, mari kita bercerita tentang Pilpres 2009. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Tetapi sebelum itu, dapatkah Anda mengenali dan memberi pendapat tentang orang-orang yang fotonya dipampangkan di atas? Detak-Detik Perubahan sengaja memilih mereka di antara puluhan atau ratusan orang Indonesia yang pantas atau merasa pantas naik bursa suksesi 2014. Mengapa nama itu yang dipilih? Apa alasannya?

Kelompok Cikeas tentu tidak akan membiarkan suksesi 2014 tanpa berusaha meraih keuntungan darinya. Keuntungan optimalnya tentulah menjadi pemegang tongkat estafeta manakala SBY tak berhasil mempengaruhi jalannya perubahan konstitusi melalui amandemen yang akan memberinya ticket baru untuk periode berikut. Oleh karena itu dari kubu ini ditampilkan 2 tokoh sekaligus, tetapi dengan kedudukan bersifat opsional. Pertama Ani Yudhoyono. Kedua saudara kandungnya Pramono Edhie Wibowo yang kini menjabat Panglima Kostrad.

Kelompok kedua tentulah berasal dari parpol. Saat ini Parpol ada dua kategori, yang terlibat erat dalam aktivitas Sekretariat Gabungan dan yang tidak aktif di situ. Maka dari sini harus ada 2 pemilahan kelompok. Kelompok keempat ialah kelompok non Cikeas dan non parpol.

Tentu ada penyederhanaan yang amat kentara dalam pemunculan sejumlah nama itu. Namun, sebaiknya pula ditegakkan prinsip bahwa perguliran yang cepat akan terjadi semakin mendekat ke 2014. Kita nantikan saja mereka.

Debat Capres Babak II

Meski sudah terjadi perubahan, tetap saja masyarakat merasa belum puas. Orang tidak mau debat ini hanya sekadar pemenuhan jadwal; jika dapat menjadi uji visi, misi serta kedalaman pengetahuan dan penguasaan Capres terhadap Indonesia, setidaknya melalui pembahasan topik yang dijadikan tajuk debat. Jika tidak dalam posisi sebagai moderator, Aviliasi yang lembut dan penuh persuasi, pasti dapat amat menohok kepada ketiga Capres jika akan membahas kebijakan pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Aturan main  membatasi, dan Aviliani tentu tidak dalam wewenang merubah itu.

Arbi Sanit pernah mengatakan: “target pengurangan jumlah orang miskin dan pengangguran sulit dicapai. Alasannya, prosentase APBN untuk program itu tidak besar. Sekitar 70 % APBN masih untuk belanja rutin seperti gaji pegawai. Bantuan sejumlah Rp 150 ribu per bulan tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini. Ada niat untuk membantu orang miskin tapi tidak terhindar dari eksploitasi politik, pemanfaatan pengaruh, katanya. Pemerintah hingga kini masih melakukan program politis dan tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan dan pengangguran secara nyata. Program-program dan langkah-langkah yang dilakukan sekedar untuk pencitraan positif pemerintah. Coba cek berapa yang dapat BLT dan apa mereka juga datang ke (rumah Presiden Yudhoyono di) Cikeas, ke Gubernur DKI saat Lebaran? ujarnya.

Seharusnya tidak seperti ini. Program yang orientasinya pemberdayaanlah yang menjadi prioritas. Hal itulah yang ditelisik Fachri Ali. Katanya, pemerintah seharusnya membuat proyek padat karya untuk mengurangi orang miskin dan pengangguran. Selain mampu menyerap tenaga kerja, proyek padat karya juga mendongkrak daya beli masyarakat. Masyarakat pun, kata dia, mampu berinvestasi untuk memproduksi barang dan jasa. “Proyek padat karya lebih efektif,’ ujarnya. (www.tempointeraktif).

Dalam sebuah sumber Aviliani pernah dikutip berucap “krisis di Indonesia lebih disebabkan karena kita selama ini impor bahan baku ( sampai 70 % ), menggunakan dollar/ USD untuk transaksi luar negeri dan pasar ekspor ditutup karena masing2 negara mengamankan ekonomi masyarakatnya. Kondisi perusahaan, bank dan dunia usaha sendiri cukup sehat dan berhati-hati setelah pengalaman melalui krisis tahun 1997 lalu.

Ekonomi yang sesungguhnya adalah hasil dari kita menanam kelapa, bercocok tanam dsb. Bukan bermain uang. Asia lebih kuat saat terimbas krisis karena ekonominya berasal dari sektor riil. Sayangnya, masa sebelumnya, transaksinya menggunakan dollar. Jadi AS yang bikin masalah, kita yang mengemis padanya. 80 % transaksi dunia menggunakan mata uang dollar.

Negara yang tak punya pilihan lain, seperti Meksiko, terpaksa menerima bantuan IMF, yang telah kita buktikan, justru makin menyengsarakan kita. IMF, World Bank dan PBB dibentuk oleh negara2 pemenang perang dunia ( PD II ) yang tentu didesain untuk menguntungkan mereka. ( Negara2 anggota mesti mengikuti semua resolusi yang dikeluarkan lembaga2 dunia ini, terbelenggu karenanya. Termasuk hanya bisa menonton ketidakadilan di tanah Palestina.

Stimulus ekonomi itu seperti air saat kebakaran. Timing-nya ( waktunya ) tidak tepat kalau kita hanya bicara ; rumah ini harus dibangun jangan di dekat area yang mudah terbakar. Tapi padamkan dulu kebakarannya, baru berikutnya mengikuti aturan yang benar tentang pendirian bangunan sehingga musibah tak berulang. Tahun 2009 ini pemerintah Indonesia sudah benar menggunakan stimulus ekonomi, tapi tahun 2010 nanti harus menggunakan sistim dan regulasi yang tepat untuk memperbaiki perekonomian Indonesia (http://nurray.files.wordpress.com)

Aviliani juga pasti akrab sekali dengan jalan fikiran ini. Sebenarnya di Indonesia itu ada permasalahan yang sangat stuktural. Pertama adalah kesenjangan ekonomi sosial. Kesenjangan itu kalau kita lihat bisa dibagi menjadi tiga. Pertama, kesenjangan antarwilayah. Jadi ada wilayah-wilayah yang sudah maju, kaya, punya sumber daya untuk maju dan ada daerah yang sangat tertinggal. Sehingga sekitar 81 persen konsentrasi atau kue ekonomi itu ada di Jawa dan Bali. Kedua, ada individu yang sangat kaya sehingga 150 orang terkaya sekarang ini menguasai 650 trilyun rupiah, tetapi ada 40 juta lebih orang miskin, yang harus cukup dengan Rp 6 ribu rupiah per hari. Ketiga, ada kesenjangan kepemilikan aset antar domestik dan asing. Sekarang itu sudah terjadi di banyak sektor, baik itu di sektor migas, di mana asing menguasai 85 persen lebih, kemudian perbankan. Bahkan asing sekarang sudah masuk di sektor-sektor yang mestinya itu untuk UKM seperti tekstil, retail. Inilah hasil dari pembangunan selama 63 tahun merdeka.

Selain kesenjangan, yang kedua adalah ketergantungan. Kita semula hanya ketergantungan pada sektor industri. Tetapi semakin lama kita juga akan mengalami ketergantungan pangan. Sehingga inilah yang membuat kita tidak menjadi mandiri. Kita mengalami ketergantungan pangan, ketergantungan bahan baku, ketergantungan bahan pendukung industri.

Ya, yang ketiga, di kita juga terjadi liberalisasi yang luar biasa di berbagai sektor. Bahkan kebijakan-kebijakan liberalisasi itu makin vulgar. Misalnya, sektor strategis boleh dikuasai hingga 95 persen. Peraturan Presiden nomor tahun 2007 itu hasil turunan dari UU Penanaman Modal. Liberalisasi yang ugal-ugalan ini mengakibatkan banyak industri padat karya itu sekarang pertumbuhannya negatif, seperti sektor tekstil, furniture, dan pengolahan kayu. Kenapa itu terjadi? Karena ada liberalisasi terhadap bahan jadi maupun bahan baku. Juga terjadi liberalisasi yang membuka pasar seluas-luasnya. Sehingga sekitar 70 persen pasar tekstil dikuasai oleh asing, itu illegal. Nah ini yang terjadi saat ini. Padahal itu sektor strategis. Jadi kalau kita melihat hingga puluhan tahun hasilnya adalah seperti ini–belum lagi sumber daya alam selain habis juga, perusahaanya tidak ada di pemerintah– maka harus ada perubahan total dalam kebijakan. Artinya kita tidak bisa melakukan perubahan secara teknisnya saja, tetapi ada perubahan yang betul-betul sangat mendasar.

Misalnya sekarang yang mendasar adalah apa sebenarnya tugas pemerintah atau Negara terhadap masyarakat. Kalau kita menggunakan UUD 45 saja, hampir semua kewajiban di sektor ekonomi itu tidak dijalankan pemerintah. Pasal 33 tentang penguasaan sektor bumi dan air itu sudah diserahkan kepada swasta. Dan itu dilegalkan oleh UU Penanaman Modal. Nah terus kemudian pasal 31 tentang pendidikan, itu kan mestinya setiap orang berhak atas pendidikan. Tetapi sekarang yang dimaksud pemerintah atau Negara yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan swasta. Sehingga pemerintah itu hanya bertanggung jawab sampai 9 tahun. Tetapi yang lainnya menjadi tanggung jawab pribadi. Inilah penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan.

Belum lagi pada pasal 34 tentang penciptaaan lapangan kerja atau penghidupan yang layak. Mestinya kan negara menjamin fakir miskin. Negara menjamin pekerjaan. Ini kan tidak. Sekarang dengan mekanisme pasar dan neoliberalis, itu bukan tugas Negara lagi, tapi itu tugas swasta. Lapangan kerja juga diserahkan ke swasta dan masyarakat, sehingga yang di dorong adalah adanya CSR (Coorporate Social Responsibilty). Maka didorong-dorong agar swastalah yang mendanai pendidikan. Jadi tugas-tugasnya itu dikurang-kurangi.

Pemerintah kan telah memposisikan dirinya dalam pemerintahan yang neolib, dia itu kan regulator. Jadi memaknai bahwa bumi dan air itu harus dikuasai oleh negara, maknanya tidak dimiliki oleh negara. Maksud dikuasai itu katanya hanya dikelola saja. Ini kan pergeseran makna yang sering tidak dipahami publik. Publik itu tidak mengerti. Seolah-olah memang pemerintah yang mengatur, tetapi kepemilikan sudah tidak di pemerintah lagi. Karena itu tadi yang dimaksud dengan Negara adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan swasta. Jadi sudah direduksi luar biasa.

Kalau definisi merdeka itu berarti setiap warga negara itu harus terpenuhi hak dasarnya, terpenuhi pangan, papan, kemudian pendidikan, kesehatan ya semestinya tidak kan. Karena, anggaran untuk pendidikan kesehatan itu harus dikalahkan oleh tugas yang pertama, yakni pembayaran utang. Jadi pembayaran utang tidak boleh dikotak-katik tapi subsidi boleh dikotak katik.

Kalau dikatakan merdeka maka ketika minta untuk dipenuhi hak dasar itu nomor satu. Kalau uangnya itu habis untuk membayar utang, maka utangnya yang dinegosiasi. Bukan hak-hak rakyatnya yang dinegosiasi. Jadi kalau ada uang, masih boleh digunakan untuk membeli minyak tanah atau masih boleh dikasih subsidi pendidikan atau kesehatan. Tapi kalau juga tidak ada uang, ya nanti dulu. Mau gimana lagi, karena memang dana pemerintah terbatas. Tapi tidak melihat tadi bahwa ada sumber dana yang sangat besar. Di tahun 2009 saja ada 169 Trilyun yang akan digunakan untuk membayar utang.

Kalau mau mandiri untuk Indonesia, tidak ada pilihan lain — karena kalau hanya mengoreksi secara teknis ekonomis di bidang ekonomi itu tidak akan cukup— harus ada perubahan yang sangat mendasar dan strategis. Misalnya kalau untuk mandiri di bidang ekonomi, harus ada dukungan infrastruktur, antara lain energi. Nah perubahan sumber energi tidak hanya mengoreksi biaya, tidak hanya mengoreksi tataniaga, tetapi sampai mengoreksi siapa yang harus memiliki itu. Apakah diperbolehkan

Sebagian besar sumber energi itu diekspor. Bukan untuk kepentingan dalam negeri. Nah itu kan harus merubah undang-undangnya. Kalau kita tidak berani melakukan koreksi sampai merubah perundang-undangannya, ya kita jangan bicara tentang kemandirian.

Kalau kita mau bicara tentang kemandirian di dalam pembiayaan sekarang ini kan kita hanya dibatasi oleh pajak dan utang. Kalau kita ingin mandiri maka cari sumber-sumber yang lain untuk penerimaan negara. Jangan haramkan untuk mendapat penerimaan dari kepemilikan sumber daya alam. Sekarang kan diharamkan, karena pemerintah hanya boleh menerimanya lewat royalty dan pajak saja. Jadi memang harus ada perubahan yang luar biasa mendasar.

Sekarang ini di kita tidak ada kepercayaan terhadap sistem kapitalis. Makanya saatnya berlomba-lomba menawarkan sistem yang terbaik, termasuk sistem Islam. Tetapi tidak semata-mata menawarkan sistem Islam, misalnya inilah sistem Islam. Kan tidak seperti itu. Karena yang harus digali adalah inilah faktanya, dan ini sistem yang kita tawarkan. Sayang, yang memahami sistem Islam masih amat sedikit, tidak hanya pahamnya, tetapi tertariknya aja tidak. Ini suatu permasalahan yang besar. Sehingga ini seolah-olah bukan menjadi sebuah alternatif.

Padahal seperti tadi, tawaran-tawaran yang sering didiskusikan itu sebenarnya sama dengan sistem ekonomi, tetapi pada saat menerima bahwa itu berasal dari sistem ekonomi Islam, orang rasanya berat. Jadi kalau kita mau melakukan perubahan, tidak hanya perubahan pengambilan kebijakan saja, tetapi pemahaman masyarakatnya juga. Yang harus dipahami juga bahwa sekarang ini sistemnya tidak cocok. Kita harus merubahnya.(http://hizbut-tahrir.or.id)


  1. Sugiatmono

    siapa gerangan yang dapat dipercaya?

  2. Pertama.
    Komentar Saya tentang orang2 yang fotonya terpampang adalah: kalau kita mau merubah kondisi negara ini… mulailah dengan merubah calon2 pemimpinnya… ini wajah lama semua tidak ada yg baru.. jadi bagaimana mungkin ada pemikiran2 yang baru dan fresh bagi negara ini? masih banyak yang lain yang lebih fresh pemikirannya dari mereka ini tetapi sayangnya mereka kurang kesohor layaknya selbritis.. atau mereka lebih sering low profile karena kultur budaya kita yang lebih sering memposisikan dirikita utk tidak pamer dan sebagainya. Tidak ada satupun dari mereka ini yang mampu bersikap independent bagi negara ini.. semuanya harus kompromi dengan mereka2 juga..utk kepentingan kelompok mereka juga..

    Kedua
    Mengenai pemerintahan yang dulu, sekarang maupun yang akan datang… mengenai pengentasan kemiskinan.. Jangan pernah berharap kemiskinan di negeri ini akan berkurang selama indikator2 ekonomi yang dipergunakan untuk mengukur kinerja pemerintahannya masih spt sekarang ini yaitu GDP, Nilai ekspor, Nilai tukar rupiah, Suku bunga perbankan inflasi, Indeks harga saham dll karena semua itu adalah indikator semu yang tak akan menyentuh sektor rill atau pun menyentuh masyarakat menengah kebawah sampai masyarakat yg miskin intinya tidak ada penyebaran ekonomi atau pemerataan ekonomi sebagaimana yg ada dalam konsep Ekonomi Islam dimana setiap masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama dalam berkontribusi di dalam kegiatan ekonominya.
    Bukan rahasia umum dari jaman orde baru sampai sekarang ekonomi kita hanya dikuasai oleh sekelompok orang2 kaya saja atau orang2 yang punya akses dan dekat dengan kekuasaan.
    Kita menggunakan Nilai Ekspor sebagai salah satu indikator ekonomi padahal perusahaan yang mampu mengekspor ke luar adalah perusahaan besar yang punya modal kuat atau yang mendapatkan fasilitas kredit perbankan untuk ekspor sedangkan ukm yang hampir bisa dikatakan representatif masyarakat kelas menengah kebawah tak akan pernah mendapatkan fasilitas kredit spt itu dikarenakan hambatan birokratis, manajemen, atau hambata dan persyaratan lain yang diberlakukan oleh pihak perbankan. Jadi mungkin saja volume ekspor kita meningkat tapi siapa yg mengeksport itu? ya org2 kaya yang punya perusahaan yang modalnya ditopang oleh pembiayaan perbankan. Sekali lagi saya katakan ini semu.
    Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yg suka mengemis kepada Negara… mereka adalah masyarakat yang suka bekerja keras dan mampu menghidupi diri mereka sendiri jika negara tidak menyulitkan mereka bahkan dengan sengaja memiskinkan mereka. Berikan mereka apa yand dibutuhkan untuk berusaha dan mereka akan sanggup utk melaksanakan itu semua.. UKM adalah sebagai contoh bagaimana masyarakat kita adalah pekerja keras tetapi justru negara lah yang sering menyulitkan mereka.. Ini adalah fakta dilapangan.. Pengusaha besar tidak akan tersentuh oleh negara walau sekalipun mereka mengemplang pajak… Tapi coba lihat UKM.. Mulai dari perizinan dipersulit.. sesudah mereka berdiri akan datang oknum aparat sipi maupun non sipil mengganggu mereka dengan dalih izin ini dan itu.. retribusi ini dan itu.. ini nyata saya sebagai salah satu pelaku usaha kecil dan menengah merasakan itu semua. Belum lagi diskriminasi oleh negara yang lebih mengagungkan orang asing dengan memberi kemudahan izin dan pengurangan pajak , retribusi dan segala macam tetek bengek nya seolah orang asing lah yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembayaran pajak yang digunakan untuk menggaji aparatur pemerintahan negara ini.
    Jadi memang rakyat kita sengaja dimiskinkan agar tidak menjadi masyarakat yang mandiri sehingga bisa dimanfaatkan oleh negara atau juga partai2 politik untuk tujuan mereka.
    Mengenai Indikator lain yang biasanya selalu dibangga2kan yaitu Nilai tukar rupiah. Padahal banyak masyarakat yang faham bahwa nilai tukar itu bisa dipermainkan secara langsung maupun tidak langsung. Seorang George Soros mampu membuat kekacauan financial dunia dengan bermain di pasar uang pada tahu 97 98 mengakibatkan banyak negara menjadi jatuh miskin. Bank Sentral juga bisa bermain dalam hal mempengaruhi Nilai tukar mata uang dan yang lebih penting lagi adalah tidak ada rill ekonomi yang bergerak disitu hanya bersifat buble ekonomi spt istilah yg dipakai oleh pakar ekonomi barat. Buble karena sifatnya gelembung besar tapi tidak ada isinya, rapuh dan mudah pecah.
    Sebaga penutup.. Kekacauan di Republik ini ditambah lagi dengan Aparatur Pemerintahaannya yg tidak becus mulai dari bawah sampai keatas dikarenakan kesalahan cetak.. maksudnya mereka memang sudah tidak becus dan tidak kompeten muai dari proses rekrutmennya yang sangat2 tidak profesional, tidak transparan dan penuh dengan KKN. Jadi tidak heran kalau 70% dari APBN habis tergerus untuk anggaran rutin aparatur negara karena memang mereka semua tidak becus bekerja sehingga tidak bisa melakukan efisiensi, Pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh satu orang dikerjakan oleh 5 orang. Begitu juga BUMN nya yang seharusnya memberikan kontribusi keuntungan malah merugi dengan alasan subsisi dan lain-lain padahal dulu ada seorang mentri BUMN yang mengatakan seandainya “MONYET” yang memimpin BUMN sekalipun.. seharusnya bisa memberikan keuntungan dan memberikan kontribusi bagi negara.
    Wasalam

    Detadeti Perubahan: Terimakasih masukannya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: