SRI MULYANI INDRAWATI DALAM PERSAINGAN YANG TANPA INCUMBENT

Awal bulan Mei yang lalu saya mencoba membuat analisis sederhana tentang Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang menjadi “korban politik” sekaitan skandal Bank Century yang hingga kini tak berujung itu. Ada 2 catatan kecil yang saya buat dalam bentuk essay. Pertama, saya beri rjudul “Sri Mulyani Indrawati: KU AKAN PERGI !!!” yang mencoba menggambarkan kepergian SMI untuk tugas barunya di Bank Dunia setelah meletakkan jabatan sebagai Menteri Keuangan RI. Catatan kedua berjudul “Sebagai Korban Politik Sri Mulyani Memenuhi Syarat Menjadi Capres 2014”.

Ketika catatan itu saya sarikan pada dinding akun facebook saya, komentar yang bermunculan terbadi 2. Jenis pertama memberi rasa hormat dan simpati atas nasib yang menimpa SMI. Sedangkan jenis kedua menyatakan penilaian dengan menyebut naïf untuk prediksi kemungkinan keterorbitan SMI di dunia politik, khususnya di arena pilpres 2014 mendatang.

Tetapi kini semakin banyak orang membincangkannya. Para analis politik semakin serius membincangkan, begitu juga denga media massa. Apa keuntungan (bagi Indonesia) memilih SMI menjadi Presiden RI?

Tidak Ada Incumbent pada Pilpres 2014

Meski sebagai partai penguasa, namun signifikansi peran Partai Demokrat dalam percaturan pilpres 2014 mendatang masih belum bisa dikalkulasi. Alasannya, perubahan politik yang sedang berlangsung bisa saja menyebabkan nasib yang berbeda untuk partai yang amat tergantung kepada SBY ini pada pemilu 2014, Catatan kemenangan pada pemilu 2009 yang amat tergantung pada icon SBY belum tentu dapat dipertahankan, dan dalam proses kemerosotan popularitas SBY malah banyak pihak percaya semakin sulitnya membayangkan peluang bagi terlaksananya keinginan politik Partai Demokrat secara mulus.

Memang tidak dapat dinafikan bahwa baik figur maupun partai politik, hingga kini belum ada yang maju melampaui keunggulan garis norma kecitraan ala SBY. Malah nyaris semua figur dan partai yang terkait dengan kekuasaan politik pengelolaan Negara, justru terkesan mengulangi fakta 2004-2009 dengan tingkat ketergantungan yang kuat kepada SBY. Riak-riak penentangan yang antara lain menghasilkan pembentukan Sekretariat Gabungan, paling tidak sampai hari ini, bukanlah sesuatu yang dapat menginterupsi keinginan SBY. Malah diprediksi lembaga kompromi ini akan semakin melemah sesuai perjalanan waktu.

Menelisik Calon Presiden 2014 pertama-tama haruslah mendiskusikan ide pelanjutan jabatan SBY untuk periode ketiga. Amandemen ke 5 UUDNRI sebagai satu-satunya sasaran antara untuk itu tampaknya sudah mendapat resistensi yang luas. Kini harus dilakukan upaya menebak arah pikiran SBY. Sebaiknya memang harus dimulai dari pandangan subjektifnya kepada Anas Urbaningrum. Pertentangkanlah hal itu dengan kentalnya dugaan semangat pelestarian kepemimpinan nasional di seputar keluarga, sebagaimana menggejala di daerah.

Diangkatnya ipar SBY Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tidak urung mendapat penafsiran beragam. Selain dianggap berindikasi upaya percepatan karier putra pahlawan almarhum Letjen TNI Sarwo Edhie tersebut ke puncak pimpinan TNI, juga dianggap sebagai pemudahan peluang untuk pencalonan pemilihan umum presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

Tentulah Anas Urbaningrum akan dapat “tersia-siakan” dalam peta politik ini. Ia memang pendatang baru dengan sejuta keistimewaan. Namun kesitimewaan itu belum tentu bermakna estafet segala kewenangan.

Maka di tengah ketiadaan incumbent, bursa pilpres 2014 tidak mungkin mengabaikan nama-nama Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Jika Nasional Demokrat akan menjadi partai dan lolos sebagai peserta pemilu, maka dari kelompok ini paling tidak ada 2 nama besar, Surya Paloh dan Sultan Hamengkubuwono X. SMI, bagaimana pun juga, harus dianggap sebagai salah satu figur yang amat perlu dihitung.

Paradigma Baru Kepemimpinan Nasional

Bukan “konco wingking”. SMI bukan tipe itu. Juga bukan tipe “samar” konsep konvensional Kartini atau tipe second liner yang bermetamorfosis sebagai bayangan kekuasaan tanpa legitimasi formal sebagaimana lazim di Indonesia. Tetapi sebagai korban politik yang anggun, SMI memenuhi syarat untuk menjadi Capres 2014 mendatang. Banyak orang menilainya tidak cakap berpolitik. Memang ada yang cakap berpolitik di negeri ini? Hitunglah dengan jari dan jika disadari ketika menjadi penguasalah pelajaran berpolitik sesungguhnya itu diperoleh, learning by doing.

SMI lahir di Tanjung Karang (sekarang disebut Bandar Lampung), 26 Agustus 1962. Dia adalah anak ketujuh dari seorang akademisi Prof Satmoko dan ibu Retno Sriningsih. Dengan sedikit mistis Wikipedia menjelaskan bahwa namanya asal Jawa, dengan akar Sansekerta. Sri memiliki arti cahaya, atau cahaya menyebar, dan umum sebagai baik kehormatan dan bagian dari nama-nama perempuan di antara Jawa. Mulyani berasal dari kata Mulya yang digunakan untuk menggambarkan konsep nilai, berharga. Indrawati berasal dari Indra dan feminin akhiran-Vati.

Ingin disarankan agar kali ini lebih baik SMI mampu mengucapkan “aku pergi untuk kembali”. Seseorang seperti dia, di luar kontroversi tentang filosofi neolib-nya (mungkin dengan pengalaman-pengalaman spektakuler kelak boleh juga berharap ia dapat melakukan revisi untuk itu), paling mungkin menjadi figur sentral dan di luar popularitas dan tampang yang mumpuni, pengembangan elektibilitasnya dapat dihitung dengan mudah: pasti tak akan mengecewakan.

Jangan bandingkan dia dengan politisi “perempuan kebesaran sanggul palsu” yang pernah ada di negeri ini. Dia tak sekelas dan tak setipe itu. Juga tak setipe pengelendot di ketiak kekuasaan suami sebagaimana lazim dinorakkan dalam kehidupan kenegaraan yang di antaranya dengan membuat pura-pura begitu penting organisasi Dharma Wanita atau yayasan-yayasan kamuflatif yang hanya dikerumuni orang-orang saat figur dipaksakan masih berada di pentas kekuasaan.

Dia perempuan, dia dari kalangan Jawa dan dia orang pintar yang mendapatkan hal-hal amat pantas dan sekaligus langka dalam sejarah achievement perempuan Indonesia. Jadi bukan asribed status yang diwarisinya seperti yang lain yang dheboh-hebohkan, bahkan diposisi-magiskan atau bahkan diklenikkan.

Pilihan Bagi Partai Cerdas

Pertanyaannya partai mana yang akan bersedia mengusungnya? Tentulah partai cerdas. Tariklah sebuah pelajaran dari Golkar. Sepanjang politik komunal masih digandrungi, secara teoritis bagaimana seorang Ketua Umum Partai Abu Rizal Bakri kelak tidak menjadi pengusung seseorang menjadi Calon Presiden agar tak mengulangi pendahulunya JK? Dengan Nasional Demokrat yang kemungkinan saja nanti akan metamorfosis menjadi partai, pertanyaan sama juga patut ditujukan kepada Surya Paloh.

Tetapi sekali lagi SMI adalah pilihan bagi partai cerdas, sekaligus partai masa depan. Orang ini tidak ada saingan, apalagi nanti (ini misalnya saja) sebagai korban skandal Bank Century ia dikirim oleh KPK ke “dunia lain” dan yang menyebabkan keahliannya berkesempatan mengalami metamorfosis menjadi kemahiran berpolitik dan begitu mungkin mendapat dukungan dunia internasional.

Apa keuntungan bagi bangsa besar Indonesia? Mempertegas bahwa prestasilah timbangan paling rasional dan paling pantas untuk keterpilihan. Itulah arah pergeseran yang dikehendaki. Jangan karena anak si itu, cucu si anu menjadi seperti dewa dan atau dewi yang secara magis dianggap penyelamat. Begitu besar pengorbanan sia-sia bangsa ini sekian lama karena mekanisme “lugu” seperti itu. Itu harus dihentikan, terutama karena negeri ini bukan negara kerajaan. Sri, katakan sekarang juga: “pergi untuk kembali”.

Shohibul Anshor Siregar


  1. Sugiatmono

    Ayo pulang dong.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: